Di dalam wilayah Sekte Api Langit, Lynx melangkah perlahan sambil menyapu sekeliling dengan tatapan tajam namun tetap santai. Lynx melihat sesuatu yang berbeda dari suasana sekte ini. Tidak seperti sebelumnya yang terasa kacau dan tak teratur, kini seluruh tempat memancarkan keteraturan dan keteguhan yang baru. Lapangan utama yang dulunya menjadi tempat murid-murid dipaksa berkumpul saat kekacauan terjadi, kini tampak bersih dan tertata. Bangunan utama yang sempat luluh lantak akibat serangan mendadak dari Shen Mo dan para pengikut sekte kegelapan, kini telah berdiri kembali. Pilar-pilar batu dengan ukiran nyala api suci menjulang kokoh ke langit, sementara atap-atap yang pernah rusak parah sekarang terlihat baru, bersinar di bawah cahaya matahari pagi.

Sejak melangkah melewati gerbang luar hingga mencapai bagian dalam bangunan utama, Lynx mendengar suara teriakan lantang dari berbagai sudut halaman. Teriakan para murid yang sedang giat berlatih menggema tanpa henti, seakan mengisi setiap sudut sekte dengan semangat tak tergoyahkan. Ia bisa melihat betapa kerasnya mereka berlatih, dengan keringat membasahi pakaian dan tatapan penuh tekad di wajah-wajah muda itu.

Suara berdesing senjata dan hantaman teknik menggema bersahutan, menyatu dengan derap langkah kaki yang cepat dan teratur. Semangat mereka seperti api yang tak pernah padam, terus menyala meski badai sempat melanda. Semua itu menjadi tanda bahwa Sekte Api Langit masih berdiri tegak, lebih kuat dari sebelumnya.

Lynx kemudian menoleh ke arah dinding batu yang mengarah ke sisi timur gunung. Di balik dinding-dinding itu, ia bisa merasakan fluktuasi energi mengalir hasil dari energi meditasi. Lynx bisa merasakan puluhan murid tengah duduk bersila dalam keheningan, tubuh mereka nyaris tak bergerak. Aliran aura spiritual yang terpancar dari mereka membentuk gelombang resonansi yang halus dan stabil. Udara di sekeliling terasa tenang, seolah ikut larut dalam kedalaman latihan mereka. Lynx bisa melihat ketekunan mereka melatih teknik kultivasi, sebuah pemandangan yang menenangkan sekaligus membangkitkan semangat.

"Aku beruntung meski menghadapi siksaan seperti api neraka, tetapi dalam waktu singkat memiliki kekuatan seperti sekarang. Seandainya tidak memiliki kekuatan ini, entah bagaimana aku akan melindungi orang disekitarku." Batin Lynx sambil memandangi keadaan sekitar.

Sambil melangkah, Lynx mendekati Deng Wei yang berjalan di sampingnya. Suaranya pelan namun jelas.  "Deng Wei... bagaimana kabar Li Wei? Apakah dia baik-baik saja?"

Dalam hati Lynx membatin, "Aku jadi teringat gadis itu, yang tak bisa diam satu menit pun. Dia pasti merindukan Ling Mei."

Deng Wei menoleh sebentar sambil tersenyum kecil, lalu mengangguk. "Nona Li Wei baru kemarin berangkat menjalankan misi ke desa Tianmu, di sebelah barat daya pegunungan ini bersama para seniornya. Beberapa waktu lalu ada serangan binatang iblis yang cukup serius di sana. Salah satu desa hampir habis di serang binatang iblis tersebut jika bala bantuan terlambat datang."

"Serangan binatang iblis?" Lynx menaikkan alis sedikit.

"Ya, binatang iblis dengan berbagai tingkatan biasanya di waktu tertentu akan menyerang desa atau kota terdekat. Mungkin ada hubungannya dengan mereka mencari makanan." Jawab Deng Wei.

Rira, yang sejak tadi hanya mengikuti dari belakang dengan langkah ringan, akhirnya buka suara dengan suara pelan tapi terdengar penuh rasa ingin tahu. "Siapa Li Wei?"

Lynx menoleh dan menjawab dengan suara lembut, ekspresinya sedikit berubah saat mengenang masa lalu. "Li Wei itu putri dari Walikota Huoling. Dia juga salah satu orang yang disayang oleh Lena. Aku pertama kali bertemu dengannya saat dia sedang mencari tanaman obat untuk kakaknya. Waktu sekte ini diserang musuh, Leena terluka parah... berkat Li Wei yang menghubungiku, jadi aku bisa segera datang menyelamatkannya."

"Sepertinya dia gadis yang baik," ucap Rira pelan, matanya menerawang.

Sementara Deng Wei merasa bingung mendengar percakapan mereka. Dalam hati dia membatin, "Leena? Sejak kapan ada murid bernama Leena disini."

"Dia baik, namun juga terlalu aktif, aku rasa dia mirip denganmu dulu," sahut Lynx sambil tersenyum tipis. Ekspresinya menunjukkan canda. Lynx merasa sikap Rira berubah tidak seperti sebelumnya, namun dia menyadari, Rira pasti menanggung beban besar selama di dunia ini. Lynx belum banyak bertanya karena dia harus fokus menyelamatkan Kael dan yang lainnya terlebih dahulu.

Deng Wei melirik ke arah mereka berdua dan ikut tersenyum, tapi kemudian kembali fokus menuntun mereka ke jalur batu yang mulai menanjak. Di ujung tanjakan itu, tampak bangunan besar ruang utama dimana leluhur sekte Api Langit biasa menerima tamu.

Tiba-tiba, sebuah suara berat terdengar memanggil dari arah kanan mereka.

“Deng Wei, ke sini sebentar!”

Langkah Deng Wei langsung terhenti. Ia menoleh cepat, lalu sedikit membungkukkan badan ke arah Lynx dan Rira.

“Tunggu dulu di sini, ya,” bisiknya dengan suara rendah, lalu segera melangkah cepat menghampiri pria yang baru saja memanggilnya.

Di ujung jalan berdiri seorang pria berusia sekitar tiga puluhan. Posturnya tegap dan kekar, lengan menyilang di depan dada. Aura kekuatan yang kuat dan menekan memancar dari setiap inci tubuhnya, membuat udara di sekitarnya terasa berat. Wajahnya keras, rahangnya tegas, dan tatapan matanya tajam menancap lurus ke arah Lynx, membuat siapa pun yang tak cukup kuat bisa langsung merasa gentar. Lynx hanya tersenyum memandang pria tersebut, dia bisa merasakan tekanan energi yang terpancar dari sosok tersebut. Tak diragukan lagi, kekuatan pria itu berada di level master foundation emas tahap awal, level yang terhitung mengesankan untuk usianya.

“Senior Zhu Rui, ada yang bisa saya bantu?” Deng Wei bertanya sopan, sedikit menundukkan kepala ketika tiba di hadapan pria itu.

Zhu Rui mengernyit, matanya menyipit, dan suaranya terdengar tajam penuh ketidaksenangan. “Apa yang dilakukan pemuda itu di sini?” gumamnya dingin. “Itu Xiao Ling, bukan? Anak yang dulu sok akrab sama Ling Mei? Mana Ling Mei sekarang? Dan… siapa perempuan yang bersamanya itu?” Nada suaranya penuh dengan sindiran, dan ekspresinya mencerminkan rasa tak suka yang sulit ditutupi.

Zhu Rui dikenal sebagai salah satu dari sekian banyak pemuda di sekte yang mencoba mendekati Ling Mei. Meski kekuatannya cukup tinggi dan posisinya terhormat di kalangan murid, sifat angkuhnya membuat tak satu pun murid perempuan, termasuk Ling Mei, tertarik menjalin hubungan dekat dengannya.

Ling Mei sendiri adalah putri dari wakil ketua sekte, seorang gadis muda yang dikenal dingin dan tertutup. Hampir mustahil diajak bicara jika tidak penting. Banyak murid pria mencoba menarik perhatiannya, tapi semuanya ditanggapi dengan tatapan kosong atau bahkan diabaikan seolah mereka tak pernah ada. Meskipun begitu, pesonanya tak pernah pudar. Ia tetap menjadi sosok pujaan di Sekte Api Langit. Usianya baru dua puluhan, tapi kekuatannya telah mencapai master foundation emas hitam, bahkan lebih tinggi dari Zhu Rui sendiri. Di antara semua murid, hanya segelintir perempuan seperti Li Wei yang bisa cukup dekat dengannya.

Namun semuanya berubah sejak Xiao Ling muncul.

Ling Mei yang biasanya bersikap dingin dan menjaga jarak, mulai menunjukkan sisi lain yang tak pernah terlihat sebelumnya. Ia jadi perhatian, bahkan tampak hangat saat berada di dekat Xiao Ling, pemuda asing yang diketahui berasal dari kota Huoling. Yang lebih mengejutkan lagi, Xiao Ling baru berada di tahap forging qi tingkat dua, jauh di bawah level Ling Mei. Namun entah mengapa, perhatian yang ditunjukkan Ling Mei terasa tulus dan dalam. Para murid bahkan sering melihat Ling Mei diam-diam memandangi wajah Xiao Ling dengan tatapan penuh kasih sayang.

Berita kedekatan mereka menyebar dengan cepat. Banyak murid yang sebelumnya memuja Ling Mei mulai merasa kecewa, marah, dan bahkan iri. Apalagi ketika kabar menyebar bahwa Ling Mei telah pergi meninggalkan sekte bersama Xiao Ling. Banyak yang belum bisa menerima kenyataan itu.

Dan kini, Xiao Ling muncul kembali. Tapi tidak dengan Ling Mei di sisinya. Melainkan bersama seorang wanita lain.

“Senior, memang benar dia Xiao Ling,” ujar Deng Wei dengan nada tenang, matanya menatap mantap. “Kata Xiao Ling, Kakak Seperguruan Ling Mei sedang menjalankan misi penting. Dia datang ke sini untuk bertemu langsung dengan Leluhur Sekte.”

“Bertemu Leluhur?” Zhu Rui mencibir, sudut bibirnya terangkat mengejek, bahunya terangkat sedikit dalam gestur meremehkan. “Apa dia pikir dirinya layak?” gumamnya sinis, lalu menajamkan pandangannya ke Deng Wei.

“Senior,” Deng Wei tetap tenang meski tekanan terasa, “bukankah Leluhur sendiri sudah menyampaikan pesan? Jika Xiao Ling datang, kita diminta untuk membiarkannya masuk tanpa gangguan.”

Tawa kecil yang terdengar dingin keluar dari mulut Zhu Rui. Ia menyeringai, sorot matanya penuh penolakan. “Huh, kau tahu apa. Diam saja. Ini bukan urusanmu,” hardiknya ketus. Tanpa memberi Deng Wei kesempatan bicara lagi, ia langsung berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan Deng Wei berdiri dengan rahang mengeras.

Zhu Rui berjalan mendekat dengan langkah berat, seolah setiap hentakannya membawa tekanan. Posturnya tegap dan sikapnya arogan, sengaja melepaskan aura kekuatannya ke udara sekitar, membuat ruang di sekeliling terasa lebih sempit dan berat. Ia ingin menunjukkan sejak awal bahwa dirinya lebih unggul. Sorot matanya mengarah lurus ke Lynx dan Rira, meneliti mereka dari ujung kepala hingga kaki, seolah sedang menilai dua orang asing yang tak pantas berada di tempat ini.

Lynx memandang pria itu dengan senyum kecil yang tenang. Ia tidak terkejut sedikit pun. Sejak dari kejauhan tadi, ia sudah mendengar percakapan mereka dengan jelas. Dan dari nada suara Zhu Rui, sikap tubuhnya, serta tekanan auranya, Lynx tahu betul pria itu datang bukan dengan niat bersahabat. Ia datang untuk mencari masalah.

